Archive for the ‘Gurindam 12’ Category

Gurindam 12 Pasal 12


12

Gurindam 12 Pasal 12

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pasal XII

Pohon kapas disambar petir
Kilat dan hujan berdesir desir
Pasal dua belas pasal terakhir
Membuat tuan untuk berpikir

Ayat 1
“Raja Mufakat Dengan Menteri
Seperti Kebun Berpagar Duri”

Sinden putri membaca hikayat
Para brahmana mendengar cermat
Presiden mentri selalu mufakat
Makmur sejahtera hidupnya rakyat

Guntur dan petir menyambar getah
Ranting tersayat terbelah belah
Gubenur dan wakil tuju searah
Pasti masyarakat hidupnya cerah

Hari jumat baca shalawat
Bagi rasul harap syafaat
Bupati camat hidup merakyat
Pasti membantu masyarakat melarat

Menjalin tali memasang jerat
Dara tekukur tidak terlihat
Pemimpin mentri tidak sepakat
Negara hancur terkerat kerat

Ayat 2
“Betul hati kepada raja
Tanda jadi sebarang kerja”

Diatas kursi kaki dilunjur
Meja jati beri pelitur
Pada pemimpin hendaklah jujur
Kerja pasti akan teratur

Kayu jati dihias ubin
Jendela rapat bertirai kain
Lurus hati pada pemimpin
Kerja dibuat tak main main

Udara dingin dari kemarin
Hujan berangin hingga ke senin
Kerja ingin dipuji pemimpin
Depan pemimpin pura pura rajin

Bulan purnama dimalam hari
Duduk santai hungga kepagi
Jangan bekerja harap dipuji
Anggap sebagai tanggungan diri

Ayat 3
“Hukum adil atas rakyat
Tanda raja beroleh inayat”

Kumtum kembang sedang layu
Puspa bunga seakan biru
Hokum jangan memandang bulu
Sama saja raja, penipu

Nujum memburu landak dan kancil
Mantra dibaca nampaklah hasil
Hokum berlaku rakyat kecil
Tanda pemimpin tidaklah adil

Tanjung biru kuala deli
Kapal berangkat kesungai musi
Hokum selalu dijual beli
Tanda aparat suka korupsi

Kuntum bunga indah ditata
Bunga raya indah jelita
Hukum berlaku sama dan rata
Buat raja rakyat jelata

Ayat 4
“Kasihkan Orang Yang Berilmu
Tanda Rahmat Akan Dirimu”

Nikmat sungguh sibatang tebu
Terasa kenyang duduk dibangku
Rahmad selalu datang menuju
Pada orang menuntut ilmu

Tebang kelapa tebang mengkudu
Batang dibuat penyangkut baju
Sayang kepada orang berilmu
Syaitan akan takut kepadamu

Baju berenda atur berjajar
Baju diangkat letak ditikar
Ilmu berguna selalu diajar
Ilmu yang sesat harus dihindar

Berlayar bahtera pemantang siantar
Lautan biru ombaknya besar
Belajar kepada oring yang pintar
Jalan dituju pastilah benar

Ayat 5
“Hormat Akan Orang Orang Yang Pandai
Tanda Mengenal Kasa dan Cindai”

Baca pelan coba mengeja
Dengan tenang santai bercanda
Kaca intan pandai dibeda
Orang yang pintar tiada dua

Jia belajar tidak mengantuk
Dengan mudah ilmu kan masuk
Datap menakar baik dan buruk
Kepada allah selalu tunduk

Kasa cindai masuk kepeti
Buat bawa kepulau sugi
Pada sipandai harus hormati
Pada si tua harus sayangi

Buat kerupuk disiang rabu
Jemur dipantai bersama sagu
Baik dan kuruk timbang dikalbu
Barulah pandai membeda batu

Ayat 6
“Ingatkan Dirinya Mati
Itulah Asal Berbuat Bakti”

Takwa padanya tetap dituntut
Tegah suruhnya segera direbut
Setiap bernyawa pastikan maut
Tinggal menuju ajal menjemput

Sepakat kata satukan hati
Bebuat benar sama berjanji
Melayat pada orang yang mati
Banyak i’tibar kita dapati

Menanti hari menunggu janji
Ikrar dilidah tekad dihati
Mati pasti menjemput diri
Pada allah perbanyak bakti

Terus berhayal untuk mendapat
Dengan ragu akan sahabat
Harus menyesal sebelum lambat
Jangan menunggu keliang lahat

Ayat 7
“Akhirat Itu Terlalu Nyata
Kepada Hati Yang Tidak Buta”

Kita sembahyang menghadap kiblat
Lalu berdoa harap dijabat
Berita tentang hari akhirat
Pasti nyata wahai sahabat

Pelita mati gulita terasa
Dekat katil sendiri saja
Buta hati karena dunia
Akhirat nanti pasti merana

Kiamat dekat didepan mata
Gundah gulana tidak mengena
Akhirat tempat yang sangat baqa
Dunia hanya tempat yang fana

Sakit terasa kala disebat
Sebadan penuh dan sangat kuat
Wajib percaya pada akhirat
Hanya menunggu cepat dan lambat

Gurindam 12 Pasal 11


11

Gurindam 12 pasal 11

Pasal XI

Didalam gelas airlah soda
Lalu direndam batu geliga
Pasal sebelas terus dibaca
Pasal gurindam hamper semprna

Ayat 1
“Hendaklah berjasa
Kepada yang sebangsa”

Dari utara ke tenggara
Bebas pergi kemana suka
Bakti pada negara dan bangsa
Tugas suci setiap warga

Dulu kaya sekarang sengsara
Nasib kita tiada mengira
Selalu bertanya jasa negara
Tapi apakah kita berjasa ?

Datang mencari dara jelita
Jadikan istri berumah tangga
Berjuang mengisi negara merdeka
Dengan berbakti berbuat jasa

Kemana pergi mencari harta
Bagi mengisi hidup keluarga
Bangga menjadi warga negara
visi, misi giat bekerja

Ayat 2
“Hendak jadi kepala
Buang perangai yang cela”

Memburu landak memakai kain
Buat obat kurang vitamin
Kalau hendak jadi pemimpin
Jujur berbuat bekerja rajin

Bangau tegak ditepi hutan
Kurus diri karma tak makan
Kalau hendak menjadi tuan
Harus hargai para bawahan

Sayang serawak di Malaysia
Laksamana bintan gagah perkasa
Pimpinan banyak aib dan cela
Negara akan jadi celaka

Zapin besama tari serimpi
Tarian budaya kita lindungi
Pemimpin kerja selalu korupsi
Tidak kan lama masuk jeruji

Ayat 3
“Hendaklah Memegang Amanat
Buanglah Khianat”

Terang sudah makna tersirat
Dapat dengan belajar giat
Pegang kuat akan amanat
Khianat jangan sekali dibuat

Batu Pahat dekat segamat
Banyak di jaja bahulu lepat
Buat khianat tidak selamat
Dalam neraka disitu tempat

Datang senja petang berpindah
Bulan terang dilangit cerah
Barang siapa pegang amanah
Itulah orang mengikut sunah

Bila berjalan dari siantan
Pindah dagangan dari Tambelan
Amanah jangan disia siakan
Khianah jangan coba lakukan

Ayat 4

“Hendak marah

Berulukan Hujan”

Dimana sendu disitu gelisah
Dimana tempat disitu rumah
Periksa dahulu sebelum marah
Janganlah cepat naik darah

Dengan lurah menuju bangsal
Turun dahulu membeli bekal
Jangan marah tak tentu pasal
Sebelum tahu sesuatu hal

Indah sekuntum bungan nan merah
Bunga idaman buat rapeah
Marah sebelum gunakan hujah
Sesal kemudian tak ada faedah

Setengah bulan berjalan sudah
Uang dikumpul tinggal setengah
Marah bukan pecahkan masalah
Dahulukan usul serta telaah

Ayat 5
“Hendak Ramai
Murahkan Perangai”

Bunga melati si bunga rampai
Dihias mari malam berinai
Murah hati pada yang ramai
Hidup pasti terasa damai

Dari Daik jalan Kemusai
Panggak darat indah dan permai
Baik baik buat perangai
Jahat di buat janganlah sampai

Pantai teluk pantai pelawan
Kapal keruk tengah lautan
Perangai buruk kita lakukan
Akan tersuruk dalam berteman

Bias kaki tertikam teruk
Obat dicari daun senuduk
Jauhkan dari perangai buruk
Tidak jadi manusia terkutuk

Gurindam 12 Pasal 10


10

Gurindam 12 Pasal 10

 

 

 

 

 

 

 

 

Pasal X

Hidup rukun si warga pauh
Karena berpegang pesan sesepuh
Dah sampaipun pasal ke sepuluh
Apakah tuan dah berpeluh

Ayat 1
“Dengan bapa jangan durhaka
Supaya allah tidak murka”

Gula jawa dimakan lalat
Lalat hitam warna berkilat
Dengan bapa jangan kualat
Kelak akan hidup terlaknat

Pada harta janganlah tamak
Mata silau jadi berontak
Ada ayah barulah anak
Pada beliau jangan tergamak

Masak lemak dan tumis udang
Beri kuah talam dihidang
Kepada anak harus disayang
Bakti ayah tiada terbilang

Dunia fana takkan baqa
Setiap insan akan tergoda
Kepada bapa jangan durhaka
Allah campakkan dalam neraka

Ayat 2
“Dengan ibu hendaklah hormat
Supaya badan dapat selamat”

Dayang senandung didalam taman
Harap putra kembali kepangkuan
Ibu mengandung sembilan bulan
Tidak merasa menjadi beban

Bunga layu bunga melati
Tidak berharga lempar di kali
Kepada ibu harus berbakti
Merawat menjaga sepenuh hati

Ketawa dulu baru dibuka
Senyum dukulum waktu membaca
Kepada ibu kita durhaka
Tidak mencium baunya surga

Bunga kiambang aneka rupa
Warna merah harum baunya
Orang tua ikhlas dan rela
Reda allah datang bersama

Ayat 3
“Dengan anak janganlah lalai
Supaya boleh naik ketengah balai”

Budak meral pergi mengail
Budak benama atan ismail
Anak diajar sedari kecil
Bila besar tidaklah degil

Pujangga bersajak diatas balai
Madah bicara sampai selesai
Menjaga anak janganlah lalai
Setelah besar kita tak lunglai

Pilar tegak terlihat megah
Pilar terletak dimuka rumah
Mengajar anak segala faedah
Bila besar kita tak lelah

Datang hadir segala arah
Melihat lomba gasing terindah
Anak lahir membawa fitrah
Harta berharga yang paling mewah

Ayat 4
“Dengan istri dan gundik janganlah alfa
Supaya kemaluan jangan menerpa”

Berperi bengis raja dahulu
Terhadap rakyat suka menipu
Beristri lebih darilah satu
bersikap adil sudah ditentu

barang seni didalam pura
letak ditempat akan dijaga
ladang sendiri rawat dan bela
jangan membabat lahan tetangga

membawa sirih adat meminang
berlaku adat orang bertunang
kepadan istri janganlah curang
disitu tempat menganga lobang

goni sarat dengan jerami
dibawa pedagang kepulau sugi
istri ibarat ladang suami
jagalah dengan sepenuh hati

Ayat 5
“Dengan Kawan Hendaklah Adil
Supaya Tangannya Jadi Kafil”

Kail gelama tengah lautan
Sampan dibawa penuh muatan
Adil seksama dalam berteman
Akan ingat dalam kenangan

Mari berjalan naik sepeda
Kota serang dipulau jawa
Mencari teman memilih bangsa
Semua orang tidakkan suka

Akhir zaman segera tiba
Tanda kecil sudah terasa
Jadilah teman bagai saudara
Selalu adil dan bijaksana

Indah nian kampung gelugur
Terbang berkawang burung tekukur
Kepada teman berlaku jujur
Pergaulan akan selalu akur

Gurindam 12 Pasal 9


Pasal IX

Bandar sudah menjadi pecan
Banyak dijual buah buahan
Tak sadar sudah pasal sembilan
Tiga pasal ada di depan

Ayat 1
“Tahu pekerjaan yang tak baik Tetapi dikerjakan
Bukanlah manusia yaitulah syaitan”

Kain secarik tolong belikan
Buat dijahit kain lap tangan
Hal yang baik tidak dikerjakan
Kita menjadi sahabat syaitan

Batang betik tidak terawat
Diganti dengan tanaman obat
Pekerjaan yang baik cepat dibuat
Supaya syaitan tidak mendekat

Hutan dibabat lautan dikeruk
Kelakuan sadis para cecunguk
Banyak membuat pekerjaan buruk
Syaitan dihati sudah kemaruk

Ikan disimpan dalam periuk
Untuk temani makan gegetuk
Syaitan arahkan pada yang buruk
Hidup dan mati kita terpuruk

Ayat 2
“Kejahatan seorang perempuan tua
Itulah iblis punya punggawa”

Sarang tempua jangan dipanjat
Baik biarkan burung mendekat
Wanita tua berbuat laknat
Syaitan akan jadi sahabat

Tarian barat tarian samba
Tari kecak budaya bangsa
Kelakuan bejat wanita tua
Hari akhirat masuk neraka

Pulau perca nama Sumatra
Medan langkat sidanau Toba
Wanita tua berbuat dosa
Syaitan angkat jadi punggawa

Semai lada diladang desa
Lada diikat didalam tenda
Wahai wanita bergelimang dosa
Segera bertaubat jangan ditunda

Ayat 3
“Kepada segala hamba hamba raja
Disituklah syaitan tempatnya manja”

Angin sepoi menderu terasa
Malam hari duduk diberanda
Ingin jadi pembantu penguasa
Didalam hati syaitan meraja

Tabla gendang kulit buaya
Indah berbunyi dikala senja
Apabila kurang iman didada
Jauhkan menjadi pembantu penguasa

Padi tumbuh ditengah desa
Masyarakat adil makmur sejahtera
Menjadi pembantu para penguasa
Rakyat kecil harus dibela

Dara bujang sedang bercinta
Hati rindu tiada tara
Supaya syaitan tidakkan manja
Menjadi pembantu beriman dan takwa

Ayat 4
“Kebanyakan orang yang muda muda
Disitulah syaitan tempat berkuda”

Lihat wanita cantik dan lawa
Seakan ditikam panah asmara
Jadi pemuda beriman dan takwa
Syaitan jauh berdepa depa

Ramah tamah sifat terpuji
Ditiru pula pemuda pemudi
Jadilah remaja ashabulkahfi
Pintu surga senantiasa menanti

Sungai raya terang benderang
Ramai mencari si orang hilang
Wahai pemuda di zaman sekarang
Perisailah diri syaitan menyerang

Panglima teguh di medan laga
Senjata ditangan gagah perkasa
Pemuda yang penuh iman di dada
Membuat syaitan selalu berduka

Ayat 5
“Perkumpulan laki laki dengan perempuan
Disitulah syaitan punya jamuan”

Bila tumpul pisau senjata
Diasah dengan batu geliga
Pria berkumpul dengan wanita
Disitu syaitan berpesta pora

Jalan beriring pasukan musuh
Gagah berani saling membunuh
Bukan muhrim jangan di sentuh
Kelak pasti imankan runtuh

Kalau harta jadi tujuan
Harus berhamba pada hartawan
Pria wanita satu jamuan
Berkumpul sama para syaitan

Berbiduk sampan layar terkembang
Berlayar pula mengikut pasang
Bertepuk tangan syaitan jembalang
Pria wanita duduk berdendang

Ayat 6
“Adapun orang tua  yang hemat
Syaitan tak suka membuat sahabat”

Obat luka makanlah gamat
Dicuci dulu ditumbuk lumat
Bila si tua selalu hemat
Anak cucu hidupnya cermat

Pedang cina penuh berkarat
Pedang buatan abad keempat
Orang tua hidup berhemat
Padanya syaitan takut mendekat

Pulut apit dicampur gula
Kopi koko beri halia
Hidup irit harus dibela
Jadi contoh bagi belia

Pisang tanduk dibelah empat
Makanan inti waktu berehat
Orang tua hidup hemat dan cermat
Syaitan benci kalau melihat

Ayat 7
“Jika orang muda kuat berguru
Dengan syaitan jadi seteru”

Telah lama tidak bertemu
Gelisah rasa memendam rindu
Dari muda menimba ilmu
Sesudah tua tidakkan semu

Tenda biru beli di Kelumu
Baru dipasang saat menjamu
Pemuda berguru mencari ilmu
Hantu syaitan tidakkan bertemu

Biar terang dalam istana
Lampu pelita dimana mana
Belajar tentang ilmu dunia
Untuk bekerja dialam fana

Dari galang ke tanjung uma
Singgah belanja batu permata
Pelajari tentang ilmu agama
Untuk bekal menutup mata

Gurindam 12 Pasal 8


8

Gurindam 12 Pasal 8

 

 

 

 

 

 

 

 

Pasal VIII
Selar papan sebangsa ikan
Bangsa ikan dalam lautan
Pasal delapan kita lanjutkan
Baca perlahan jangan ketiduran

Ayat 1
“Barang siapa khianat pada dirinya
Apalagi pada lainnya”

Ingat kepada akan mati
Jangan sembarang diatas bumi
Khianat akan diri sendiri
Pada orang lain lebih lagi

Dara menari dimalam jum’at
Gendang berbunyi suasana hikmat
Kepada diri jangan khianat
Jadilah diri orang amanat

Kubur keramat jauh diselat
Siapa percaya jadi mudarat
Ilmu khianat membawa laknat
Dapat neraka dihari akhirat

Siti aminah datang menikah
Tempat menikah dirumah Allah
Buat amanah, jangan khianat
Mendapat berkah dari yang rahmah

Ayat 2
“Kepada dirinya dia aniaya
Orang ini jangan engkau percaya”

Jidup berbakti pada dunia
Akhirat datang pastikan lupa
Diri sendiri dia aniaya
Semua orang takkan percaya

Bintang bercahaya dimalam hari
Tampak redup bilakan pagi
Orang aniaya diri sendiri
Ibarat hidup inginkan mati

Buah mengkudu masak sebiji
Diperah perah obatkan hati
Hidup selalu menyiksa diri
Murka allah sudahlah pasti

Bunga melati bunga cempaka
Didalam hutan alam terbuka
Menyiksa diri didalam dunia
Allah pastikan hidup derita

Ayat 3
“Lidah suka membenarkan dirinya
Dari pada yang lain dapat kesalahannya”

La haula wala quata
Jauh daya serta upaya
Bila lidah mulai berdusta
Mulut bicara mengada ada

Burung nuri terbang berputar
Terbang melayang jauhi sangkar
Mengaku diri yang paling benar
Pada yang lain selalu ingkar

Sajak dibaca pakai pepatah
Bersikap menantang pada yang salah
Bijak berkata bersilat lidah
Menganggap orang selalu lemah

Putri menanti hati nan gundah
Dengan segala resah gelisah
Berhati hati menggunakan lidah
Jangan sampai membawa padah

Ayat 4
“Dari pada memuji diri hendaklah sabar
Biar dari pada orang datangnya kabar”

Bakar belalang di bara api
Untuk dimakan oleh kelinci
Jangan sembarang kita memuji
Harus dengan ikhlas dihati

Camar singgah ditiang layar
Senja hari terlihat samar
Khabar didengar hendaklah sabar
Supaya hati tidak tersasar

Hidang disaji buat kenduri
Makan setalam dengan pak haji
Jangan memuji kepada diri
Ri’a tertanam didalam hati

Tikar padi bentangkan lebar
Duduk bersama akan belajar
Kabar angin jangan didengar
Harus periksa dengan benar

Ayat 5
“Orang suka menampakkan jasa
Setengah dari pada syirik mengaku kuasa”

Tanjung Kelit menjadi desa
Camat Senayang jadi ketua
Berbuat baik ingin dipuja
Itulah orang berpura pura

Kuala selat tempat mengaji
Tempatnya indah banyak santri
Apa dibuat minta dipuji
Dimata allah tidak berarti

Merapat kapal pada dermaga
Pangkal lanang tempat tamasya
Berbuat jasa tak harap dipuja
Akan dikenang sepanjang masa

Pala jintan rempah rempahan
Memasak gulai ikan haruan
Segala perbuatan harap pujian
Syirik mulai singgah dibadan

Ayat 6
“Kejahatan diri sembunyikan
Kebaikan diri diamkan”

Hancur kemiri karena digilas
Buat memasak tumisan pedas
Menabur budi niat yang ikhlas
Tidak mengharap budi dibalas

Patahlah hati jiwakan sunyi
Ingatkan kasih tiada kembali
Salahnya diri kita sembunyi
Jadikan sebagai sempadan hati

Buah durian mari di sekah
Makan bergizi buat yang lemah
Tangan kanan beri sedekah
Tangan kiri haruslah lengah

Kelapa kemantan mari di panjat
Campurkan selai dibuat sorbat
Segala perbuatan baik dan jahat
Rahasia diri ditutup rapat

Ayat 7
“Keaiban orang jangan dibuka
Keaiban diri hendaklah sangka”

Tabib dari Tanjunglah lipat
Tabib seberang memberi obat
Aib sendiri harus diingat
Aibnya orang ditutup rapat

Pinang sebatang tinggi menjulang
Ambil sebiji dikala petang
Bercerita tentang aibnya orang
Aib sendiri tampaklah terang

Sirip ikan di buat acar
Dibuat makan diwaktu ashar
Aib teman selalu disiar
Aib kita terangkan sebar

Sari madu beli di pekan
Belikan barang buat campuran
Aib dan malu jadi sempadan
Melangkah yang baik dihari depan

Gurindam 12 Pasal 7


Pasal VII

Pulau tujuh natuna tempatnya
Pulau berpencar jauh semua
Pasal ketujuh banyak ayatnya
Baca pantunnya santailah saja

Ayat 1
“Apabila banyak berkata-kata
Disitulah jalan masuk dusta”

Merah warna sibunga jambu
Jambu batu tumbuh beribu
Hendaklah bicara pada yang perlu
Kalau tak perlu, baik membisu

Bunga mawar bunga cempaka
Bunga semanggi tumbuh melata
Bicara saja apa yang ada
Supaya tak jadi orang pendusta

Letak batu sebagai tanda
Terih diambil bata dibawa
Tak perlu perbanyak kota
Lebih baik kita bekerja

Berakit kota dekat Toapaya
Berniaga barang aneka rupa
Sedikit bicara banyak bekerja
Itulah orang berhasil guna

Ayat 2
“Apabila banyak berlebih-lebihan suka
Itu tanda hampirkan duka”

Bertahta raja di Kota Banda
Kotanya ramai sejak merdeka
Bersuka ria biar berpada
Jangan sampai menjadi duka

Indragiri putra mahkota
Putra raja seri baginda
Lupa diri terlalu suka
Tanda duka segera melanda

Langit berawan berarak arak
Dilanda hujan layar tersibak
Menangis jangan suara serak
Tertawa jangan sampai terbahak

Megat alang minta suaka
Berangkat berdua datuk panglima
Ingat duka dikala suka
Ingat sengsara dikala kaya

Ayat 3
“Apabila kita kurang siasat
Itulah tanda pekerjaan hendak sesat”

Kaum kerabat tetap diingat
Susah senang baik sepakat
Sebelum berbuat hendaklah siasat
Supaya pekerjaan menjadi tepat

Terbang beribu burung gelatik
Menyambut mendung hujan menitik
Segala sesuatu hendaklah selidik
Untuk menghubung segala titik

Muatan sarat sehingga tumpah
Susun dulu baru dipindah
Jangan buat pekerjaan marah
Sebelum tahu duduk masalah

Tanjung Kilang Durai terdapat
Disana pukat melempar pukat
Sebelum pekerjaan mulai dibuat
Minta pendapat agar selamat

Ayat 4
“Apabila anak tiada dilatih
Jika besar bapaknya letih”

Sahabat katib susah dicari
Teman baik sejiwa sehati
Anak di didik sedari dini
Akan menjadi anak berbakti

Lempar sauh tali digantung
Dekat pulau sampan didayung
Melentur buluh sedari rebung
Supaya tau ibu yang mengandung

Sejajar letak pulau idaman
Tempat nelayan menangkap ikan
Mengajar anak dengan teladan
Tidak dengan perintah suruhan

Cabang ranting buah dipetik
Letaknya jauh tali ditarik
Kesabaran penting dalam mendidik
Anak cepat menjadi cerdik

Ayat 5
“Apabila banyak mencacat orang
Itulah tanda diri kurang”

Duduk rapat tengah bersembang
Bersandar mari ditepi jurang
Selalu melihat lemahnya orang
Tak sadar dirinya yang banyak kurang

Letak pakaian dalam lemari
Baju dan kain susunan rapi
Selalu menyalahkan teman sendiri
Untuk tutupi kesalahan diri

Mengasah parang sampai berkilat
Buatan dari Rantau Prapat
Cacatnya orang selalu dilihat
Kesalahan diri disimpan rapat

Buahnya kelat serta berduri
Diberi nama bu8ah keranji
Carilah cepat cacatnya diri
Serta berusaha untuk perbaiki

Ayat 6
“Apabila orang yang banyak tidur
Sia-sia sajalah umur”

Atur sampan ditepi laut
Susun diwaktu airnya surut
Tidur jangan sampi larut
Bangun pagi kan nampak kusut

Susun atur nampak terawat
Tanaman tumbuh segar dan sehat
Bangun tidur jangan terlambat
Sholat subuh akan terlewat

Sesudah setrika baju dilipat
Lalu letakkan dilemari tingkat
Tidurlah pada waktu yang tepat
Badanmu akan selalu sehat

Turun meluncur dengan riang
Bertemu teman duduk bersembang
Bangun tidur terlalu siang
Rezekimu akan dikebas orang

Ayat 7
“Apabila mendengar akan khabar
Menerimanya itu hendaklah sabar”

Besar untuk dibuat lebar
Dekat mari kita berikrar
Kabar buruk jadi iktibar
Membuat hati tabah dan sabar

Lempar kail hati berdebar
Menanti dengan perasaan sabar
Kabar baik kalau didengar
Motivasi meningkat harapan besar

Jala ditebar lelah terasa
Usaha ikhtiar buat keluarga
Sampaikan kabar jangan tergesa
Supaya yang dengar siap terima

Bunga mekar menambah segar
Ditepi danau duduk bersandar
Terima kabar janganlah gusar
Selidik dahulu dengan benar

Ayat 8
“Apabila mendengar akan aduan
Membicarakannya itu hendaklah cemburuan”

Makan belebat dirumah intan
Mari bersama buat jamuan
Jangan berbuat mengikut syaitan
Cari penyebab asal aduan

Menuju kehulu mencari lampu
Dian pelita jadi pemandu
Pengadu selalu jadi pengampu
Jauhkan dia sedari mampu

Bukan pendekar tidak bersilat
Tangan terikat kain pelikat
Jangan didengar aduan penjilat
Berangan nak cepat naik pangkat

Delman dari pulau Sumba
Delman dibawa paduka raja
Jangan menjadi pengadu domba
Jadilah manusia rajin bekerja

Ayat 9
“Apabila perkataan yang lemah lembut
Lekaslah segala orang mengikut”

Terantuk tengadah segera menyebut
Rabbul alamin nama tersebut
Suruh tegah haruslah lembut
Jadi pemimpin banyak pengikut

Duduk tengadah memeras otak
Cara obati penyakit bengkak
Suruh, tegah dengan membentak
Para pengikut akan berontak

Demam berpeluh terasa gundah
Hati terasa resah gelisah
Dalam menyuruh atau mencegah
Bagai lebutnya gigi dari lidah

Tanah gambut hutan belukar
Siram tanaman tumbuhlah akar
Kata yang lembut selalu keluar
Tanda insan bertingkah benar

Ayat 10
“Apabila perkataan yang amat kasar
Lekaslah sekalian orang gusar”

Kayu teratak kuat dan besar
Agar dapat Honda keluar
Selalu membentak bersikap kasar
Akan membuat suasana gusar

Pintu kamar buatan Taiwan
Dibawa dari kota Belawan
Prilaku kasar bawaan hewan
Jauhkan diri supaya aman

Bayar biaya untuk cik nyonya
Upah kerja tidak berapa
Kasar bahasa buruk tingkahnya
Tiada siapa orang menyapa

Tertusuk duri darah keluar
Sakit bisa, tahan dan sabar
Jauh dari membentak mengasar
Jadi manusia berjiwa besar

Ayat 11
“Apabila pekerjaan yang amat benar
Tidaklah boleh orang berbuat honar”

Cinta diikat cincin melingkar
Tanda adik sudah dilamar
Kerja dibuat teliti dan benar
Hasilnya baik pasti keluar

Bermain senjata pakai perisai
Perisai dibeli di Tanjung Balai
Jangan bekerja asal selesai
Teliti kembali sebelum usai

Pada berangkas harta berpeti
Harta dirampas karena korupsi
Tanamkan lekas didalam hati
Kerja cerdas jadi tekadnya diri

Letak beras diatas kulkas
Sebelum dimasak harus dibilas
Kerja keras dan kerja lekas
Hasil manfaat hatipun puas

Gurindam 12 Pasal 6


pasal 6

Gruindam 12 Pasal 6

 

 

 

 

 

 

 

Pasal VI

Badan pegal harus bersenam
Petang hari sambil menyelam
Inilah pasal yang keenam
Saya tulis diwaktu malam

Ayat 1
“Cahari olehmu akan sahabat
Yang boleh dijadikan obat”

Kelurahan Daik desa Duara
Terdapat lagi desa Penuba
Sahabat yang baik bagai saudara
Tempat berbagi suka dan duka

Jangan bakar menjadi abu
Agar berguna ujungnya tebu
Teman tertawa beribu ribu
Teman berduka hanyalah Satu

Cangai Gundik dipulau Belat
Penarah juga ditepi selat
Sahabat yang baik tempat mufakat
Dapat kita tukar pendapat

Mengelola memahat si kayu getah
Dibuat budak sebuah galah
Carilah sahabat penunjuk salah
Supaya tidak salah melangkah

Ayat 2
“Cahari olehmu akan guru
Yang boleh tahukan setiap seteru”

Berburu rusa dihutan hantu
Rusa betina sedang menyusu
Berguru kepada orang yang tahu
Supaya berguna segala ilmu

Sampan dibina didesa Buru
Baru dibuat diatas batu
Jangan durhaka kepada guru
Ilmu didapat tidak bermutu

Meranti, gaharu adalah kayu
Dibuat tanggul menangkap lundu
Hormati guru, setelah bapakmu
Sabda rasul jadi penentu

Gemetar dada melihat darah
Darah pekat diluka parah
Belajar kepada guru yang salah
Tidak mendapat redhanya Allah

Ayat 3
“Cahari olehmu akan istri
Yang boleh menyerahkan diri”

Pergi mencari sebuah nangka
Dihutan besar jumpa geliga
Carilah istri agama sempurna
Teman kekal sampai kesurga

Tuan putri cantik jelita
Terdapat mahkota intan dan ratna
Mendapat istri yang gila harta
Membuat kita tidur tak lena

Mari menjerat burung kedidi
Getah dipasang diatas jati
Istri yang taat pada suami
Itulah dia wanita sejati

Menyusun tari jarinya lentik
Cincin dijari berbatu akik
Mencari istri karena cantik
Cemburu dihati selalu terbetik

Ayat 4
“Cahari olehmu akan kawan
Pilih segala orang yang setiawan”

Ikan unga dimasak kari
Ikan pelata dimasak cili
Kawan setia susah dicari
Kawan hura hura banyak sekali

Tarian melayu dara jelita
Sudah ternama keliling kota
Teman selalu seia sekata
Itulah teman paling setia

Makan ketupat dikala penat
Rasa enak dikerat kerat
Jangan didekat teman khianat
Supaya tidak jadi subahat

Pelepah dibuat bakul anyaman
Anyaman jadi jual kepekan
Jagalah sifat setia kawan
Supaya abadi dalam persahabatan

Ayat 5
“Cahari olehmu akan abdi
Yang baik sedikit budi”

Beras kencur cuci disumur
Setelah bersih lalu dijemur
Pembantu jujur pekerti luhur
Usaha akan selalu mujur

Bangku diduduk letak disudut
Canda dan tawa sampai larut
Pembantu ditunjuk tak pernah ikut
Tanda usaha segera bangkrut

Pilah dahulu baru diolah
Jadi sempurna serta faedah
Carilah pembantu mau bersusah
Mau bekerja walaupun payah

Kayu dipikul untuk penanggah
Acara memasak diakad nikah
Pembantu yang selalu membuat ulah
Segala dibuat tak pernah sudah

Gurindam 12 Pasal 5


Pasal V

Titah sultan disinggah sana
Datuk menteri duduk bersama
Baca teruskan pasal kelima
Didalam hati menjadi makna

Ayat 1
“Jika hendak mengenal orang berbangsa
Lihatlah kepada budi dan bahasa”

Bila rindu mulai terasa
Segera bertemu dengan si dia
Jaga selalu budi bahasa
Agar melayu tidak tercela

Singgah kekedai membeli bunga
Aneka bunga berupa rupa
Behasa sebagai pengenal bangsa
Setiap warga wajib menjaga

Ulama sholeh taat beragama
Ibadah mengharap mencuci dosa
Bahasa boleh berbeda beda
Negara tetap Indonesia

Selatan utara kompas berputar
Arah didapat terus berlayar
Gunakan bahasa baik dan benar
Supaya tidak jadi tercemar

Ayat 2
“Jika hendak mengenal orang bahagia
Sangat memeliharakan yang sia-sia”

Kuala selat ada buaya
Takut sekali tiada dua
Banyak berbuat yang sia-sia
Hidup jadi tidak berguna

Serah hatimu kepada Allah
Kerjakan segera amal ibadah
Berbuatlah selalu yang faedah
Hal sia-sia tak akan singgah

Desa Keban banyak rumbia
Pohonnya banyak didalam paya
Di dunia buat yang sia-sia
Di akhirat akan teraniaya

Biduk lalu muatan sarat
Dari desa ke Batu Pahat
Buat selalu hal manfaat
Hal sia- sia tidaklah dekat

Ayat 3
“Jika hendak mengenal orang mulia
Lihatlah kelakukan dia”

Tudung periuk banyak berkarat
Masak menjerang si air hangat
Kelakuan buruk jangan dibuat
Banyak orang takkan mendekat

Pergi kenduri hari Selasa
Tuan Haji membaca doa
Baik budi indah bahasa
Pasti jadi insan mulia

Masuk angin beri halia
Halia campurkan dengan merica
Bila ingin jadi mulia
Jaga kelakuan serta etika

Desa Kelarik pulau Jemaja
Dilaut Cina tempat letaknya
Kelakuan baik santun bahasa
Menjadi tanda orang mulia

Ayat 4
“Jika hendak mengenal orang berilmu
Bertanya belajar tidaklah jemu”

Kala dipandang malu malu
Saat pancaran dizaman dulu
Tanda – tanda orang berilmu
Terus belajar tiadalah jemu

Bikin pondok tepi perigi
Buat menanam bunga semanggi
Makin tunduk makin berisi
Tanda insan berilmu tinggi

Dulu buruk sekarang menawan
Pemuda gagah jadi idaman
Ilmu dituntut dari buaian
Sabda nabi rasul junjungan

Mencari sotong mencari delah
Hiu datang sampan dipindah
Bagai pohon tidak berbuah
Ilmu yang ada tidak diindah

Ayat 5
“Jika hendak mengenal orang yang berakal
Didalam dunia mengambil bekal”

Duduk bersila disinggah sana
Sambil berbual dalam istana
Hidup di dunia jangan terlena
Sipakan bekal kealam sana

Kala hari menjadi redup
Hujan turun basah kuyup
Bekal dicari selagi hidup
Jangan tunggu mata menutup

Tarian sakral si Pancang Jermal
Tarian dibawa kedaerah Kawal
Persiapkan bekal perbanyak amal
Hidup didunia tidaklah kekal

Surga dibawah kaki ibu
Bakti padanya tidakkan jemu
Berakal didunia selagi mampu
Hari tua jangan ditunggu

Ayat 6
“Jika hendak mengenal orang baik perangai
Lihatlah ketika bercampur dengan orang ramai”

Lapon menjerat burung punai
Batang karet ujung terjuntai
Berkumpul dengan orang ramai
Yang baik dan buruk dapat dinilai

Ribut bernama badai dan topan
Badai bertiup mematah dahan
Bertemu bersama handai dan taulan
Perangai buruk segera tinggalkan

Sejuk dingin dimalam hari
Smpai menusuk tulang dan sendi
Hidup ingin menang sendiri
Perangai buruk diri merugi

Duduk menonton tarian randai
Madah dibaca pembuka tirai
Hidup rukun bersama yang ramai
Pastilah dia baik perangai

Gurindam 12 Pasal 4


makam

Makam Raja Ali Haji Fisabilillah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pasal IV

Pasir lulun dan tanjung lipat
Tempat mencari si ikan sepat
Teruskan pantun pasal ke empat
Pantun berisi banyak nasehat

Ayat 1
“Hati itu kerajaan didalam tubuh
Jikalau Zalim segala angota pun roboh”

Sebilah lembing darilah buluh
Bilah dibeli desa gemuruh
Sebongkah daging didalam tubuh
Itulah hati sangat berpengaruh

Laksamana mati karena dibunuh
Dendam kesumat bagai diteluh
Pangkalnya hati didalam tubuh
Jasadkan buat apa disuruh

Datang dari teluk kuantan
Berniaga benda dari anyaman
Bila hati dirasuk syaitan
Angkara murka jadi perbuatan

Simpan galah didalam peti
Simpan mari berhari hari
Ingatkan allah didalam hati
Jasmani rohani menjadi suci

Ayat 2
“Apabila dengki sudah bertanda
Datanglah dari padanya bebrapa anak panah”

Ngarai berbatu jalan ditepi
Lama berjalan bisa dikaki
Perangai selalu iri dan dengki
Tanda syaitan bertahta di hati

Dari khurapat akan sesat
Jauhkan dirimu dikala dapat
Dengki khianat jangan didekat
Diri akan selalu dilaknat

Bagai duri sudah melekat
Kulit seakan dikerat kerat
Iri dan dengki sudah bersahabat
Penyakit akan selalu dekat

Asam kandis jatuh ketanah
Jatuh dikali sibuah getah
Ibarat kudis mulai bernanah
Dengki dihati susah diubah

Ayat 3
“Mengumpat mengiji hendaklah piker
Disitulah banyak orang tergelincir”

Ikan terubuk dalam hidangan
Hidangan lebai buat undangan
Jangan mabuk akan pujian
Gunakan sebagai penguat iman

Tabir terbuka dimulai tari
Indah tarian dari sang putri
Bibir berucap ikhlas dihati
Itulah pujian paling hakiki

Kuat bukan buat diuji
Akan merugi diri sendiri
Berbuat jangan harap dipuji
Tidakkan sempurna seperti dihajati

Dikerat dulu baru disimpan
Petuah dari datuklah uban
Berbuat selalu harap pujian
Jauh dari redhanya tuhan

Ayat 4
“Pekerjaan marah jangan dibela
Nanti hilang akal dikepala”

Buah padi tebar ditanah
Keluar keringat terasa lelah
Bila diri terasakan marah
Segeralah ingat kepada allah

Emas merah bertatah intan
Suasa juga pakai ditangan
Sifat marah perbuatan syaitan
Pabila datang segera dilawan

Cuaca cerah disiang hari
Mega berlalu hilang mentari
Marah sudah didalam hati
Segera berwudhu sucikan diri

Rotan berduri dikebun getah
Getah bersusu putih dan merah
Lawan dari nafsu amarah
Itulah nafsu muthmainnah

Ayat 5
“Jika sedikitpun berbuat bohong
Bolehlah diumpamakan mulutnya pekong”

Siakap senohong mari dikail
Masak di panci di campur air
Bila pembohong sedari kecil
Besar menjadi menipu mahir

Terong biru segera dipetik
Buat makanan musim paceklik
Bohong itu tanda munafik
Akhirnya akan menjadi fasik

Dari bakong kesungai pancur
Layar biduk haluan timur
Hindari bohong jadilah jujur
Agar hidup tidak hancur

Sorong papan buat terali
Papan dari dahan berduri
Bohong jangan buat sekali
Akan menjadi kebiasaan diri

Ayat 6
“Tanda orang amat celaka
Aib dirinya tiada disangka”

Berburu macan dibulan terang
Malam hari timbul bintang
Tahu akan aibnya orang
Tanda diri selalu kurang

Naik bendi di pekan raya
Naik berteman dengan ceria
Aib sendiri jadikan rahasia
Aib orang jangan dicerita

Tasik biru indah menawan
Sendiri menyepi tanda berteman
Aib itu jadikan sempadan
Perbaiki diri hari depan

Daik Bintan kuala tungkal
Laut cina mencari bawal
Aib teman selalu dibual
Aib kita selalu dijual

Ayat 7
“Bakhil jangan diberi singgah
Itulah perompak yang sangat gagah”

Bila berhasil janganlah pongah
Sudah pasti semuakan marah
Bila bakhil sudah menjamah
Jauhlah diri dari amanah

Dari sekolah ketugu pinsil
Bersama teman sambil mengail
Dihati singgah penyakit bakhil
Semua perbuatan menjadi bathil

Ambil pasir dekat pesisir
Sudah diambil buat cek basir
Bakhil dan kikir sifat rentenir
Jauhilah sampai hayat berakhir

Disana gurun disini air
Diatas gurun terdapat pasir
Bersama qarun dihari akhir
Setiap insan bersifat kikir

Ayat 8
“Barang siapa yang sudah besar
Janganlah kelakuannya membuat kasar”

Jika melipat baju seluar
Letak selendang didalam bangsal
Bila jasad tumbuh membesar
Otak berkembang makin berakal

Dengan saudagar barang di tukar
Pasar serang tempat berjual
Badan besar berbuat kasar
Tanda orang kurang berakal

Sunggunh indah gunung banang
Lautan besar luas terbentang
Tumbuh jasad akal berkembang
Kelakuan kasar jauh dibuang

Datang kesini ingin belajar
Belajar silat dari dasar
Pendidikan dini baik dan benar
Dewasa tidak menjadi kasar

Ayat 9
“Barang siapa perkataan kotor
Mulutnya itu umpama ketor”

Pasang pelita dikala senja
Malam hari gelap gulita
Jaga kata kalau berbicara
Jangan sampai merusak etika

Datuk pendekar telah ditawan
Ditawan pasukan darilah bintan
Bertutur kata mestilah sopan
Kawan dan lawan pastilah segan

Senjata meriam isilah pelor
Arah bidik tuju ketimur
Jika banyak berkata kotor
Jauh dari tabi’at jujur

Serasan dekat pulau Tambelan
Pulau Jemaja pulau Siantan
Berkata dengan bahasa sopan
Bagai puspa harum ditaman

Ayat 10
“Dimanakah salah diri
Jika tidak orang lain perperi”

Kehulu sungai indragiri
Henda memikat burung kedidi
Tak tahu akan kesalahan diri
Tanpa diingat teman sendiri

Pekan lama dipulau jeri
Tempat perahu mengikat tali
Teman umpama cerminan diri
Tingkah laku harus kita cermati

Sungai Ungar Tanjung Berlian
Masa lalu satu kecamatan
Selalu dengar nasehat kawan
Supaya tau buruknya badan

Hang Tuah pahlawan memang tawaduk
Tinggal dirumah seperti gubuk
Petuah taulan jadikan cambuk
Untuk mengubah tabiat buruk

Ayat 11
“Pekerjaan takabur jangan direpih
Sebelum mati didapat juga sapih”

Tumbuh ditaman kembang nan subur
Sangat indah bagai menghibur
Hidup jangan sombong takabur
Mendapat azab didalam kubur

Indah sungguh nyanyian kenari
Balam juga sama berbunyi
Manusia selalu banggakan diri
Dalam hidupnya pastilah rugi

Sarang tambuan dipohon nyiur
Hinggap selalu burung tekukur
Senang jangan jadi takabur
Ingat waktu badanmu uzur

Pergi gelugur membeli besi
Belikan juga papan meranti
Hidup takabur selalu dibenci
Jauhkan ia jangan dekati

. Pasir lulun dan tanjung lipat
Tempat mencari si ikan sepat
Teruskan pantun pasal ke empat
Pantun berisi banyak nasehat

Ayat1
Hati itu kerajaan didalam tubuh
Jikalau Zalim segala angota pun roboh

Sebilah lembing darilah buluh
Bilah dibeli desa gemuruh
Sebongkah daging didalam tubuh
Itulah hati sangat berpengaruh

Laksamana mati karena dibunuh
Dendam kesumat bagai diteluh
Pangkalnya hati didalam tubuh
Jasadkan buat apa disuruh

Datang dari teluk kuantan
Berniaga benda dari anyaman
Bila hati dirasuk syaitan
Angkara murka jadi perbuatan

Simpan galah didalam peti
Simpan mari berhari hari
Ingatkan allah didalam hati
Jasmani rohani menjadi suci

Ayat2
Apabila dengki sudah bertanda
Datanglah dari padanya bebrapa anak panah

Ngarai berbatu jalan ditepi
Lama berjalan bisa dikaki
Perangai selalu iri dan dengki
Tanda syaitan bertahta di hati

Dari khurapat akan sesat
Jauhkan dirimu dikala dapat
Dengki khianat jangan didekat
Diri akan selalu dilaknat

Bagai duri sudah melekat
Kulit seakan dikerat kerat
Iri dan dengki sudah bersahabat
Penyakit akan selalu dekat

Asam kandis jatuh ketanah
Jatuh dikali sibuah getah
Ibarat kudis mulai bernanah
Dengki dihati susah diubah

Ayat 3
Mengumpat mengiji hendaklah piker
Disitulah banyak orang tergelincir

Ikan terubuk dalam hidangan
Hidangan lebai buat undangan
Jangan mabuk akan pujian
Gunakan sebagai penguat iman

Tabir terbuka dimulai tari
Indah tarian dari sang putri
Bibir berucap ikhlas dihati
Itulah pujian paling hakiki

Kuat bukan buat diuji
Akan merugi diri sendiri
Berbuat jangan harap dipuji
Tidakkan sempurna seperti dihajati

Dikerat dulu baru disimpan
Petuah dari datuklah uban
Berbuat selalu harap pujian
Jauh dari redhanya tuhan

Ayat4
Pekerjaan marah jangan dibela
Nanti hilang akal dikepala

Buah padi tebar ditanah
Keluar keringat terasa lelah
Bila diri terasakan marah
Segeralah ingat kepada allah

Emas merah bertatah intan
Suasa juga pakai ditangan
Sifat marah perbuatan syaitan
Pabila datang segera dilawan

Cuaca cerah disiang hari
Mega berlalu hilang mentari
Marah sudah didalam hati
Segera berwudhu sucikan diri

Rotan berduri dikebun getah
Getah bersusu putih dan merah
Lawan dari nafsu amarah
Itulah nafsu muthmainnah

Ayat5
Jika sedikitpun berbuat bohong
Bolehlah diumpamakan mulutnya pekong

Siakap senohong mari dikail
Masak di panci di campur air
Bila pembohong sedari kecil
Besar menjadi menipu mahir

Terong biru segera dipetik
Buat makanan musim paceklik
Bohong itu tanda munafik
Akhirnya akan menjadi fasik

Dari bakong kesungai pancur
Layar biduk haluan timur
Hindari bohong jadilah jujur
Agar hidup tidak hancur

Sorong papan buat terali
Papan dari dahan berduri
Bohong jangan buat sekali
Akan menjadi kebiasaan diri

Ayat6
Tanda orang amat celaka
Aib dirinya tiada disangka

Berburu macan dibulan terang
Malam hari timbul bintang
Tahu akan aibnya orang
Tanda diri selalu kurang

Naik bendi di pekan raya
Naik berteman dengan ceria
Aib sendiri jadikan rahasia
Aib orang jangan dicerita

Tasik biru indah menawan
Sendiri menyepi tanda berteman
Aib itu jadikan sempadan
Perbaiki diri hari depan

Daik Bintan kuala tungkal
Laut cina mencari bawal
Aib teman selalu dibual
Aib kita selalu dijual

Ayat7
Bakhil jangan diberi singgah
Itulah perompak yang sangat gagah

Bila berhasil janganlah pongah
Sudah pasti semuakan marah
Bila bakhil sudah menjamah
Jauhlah diri dari amanah

Dari sekolah ketugu pinsil
Bersama teman sambil mengail
Dihati singgah penyakit bakhil
Semua perbuatan menjadi bathil

Ambil pasir dekat pesisir
Sudah diambil buat cek basir
Bakhil dan kikir sifat rentenir
Jauhilah sampai hayat berakhir

Disana gurun disini air
Diatas gurun terdapat pasir
Bersama qarun dihari akhir
Setiap insan bersifat kikir

Ayat8
Barang siapa yang sudah besar
Janganlah kelakuannya membuat kasar

Jika melipat baju seluar
Letak selendang didalam bangsal
Bila jasad tumbuh membesar
Otak berkembang makin berakal

Dengan saudagar barang di tukar
Pasar serang tempat berjual
Badan besar berbuat kasar
Tanda orang kurang berakal

Sunggunh indah gunung banang
Lautan besar luas terbentang
Tumbuh jasad akal berkembang
Kelakuan kasar jauh dibuang

Datang kesini ingin belajar
Belajar silat dari dasar
Pendidikan dini baik dan benar
Dewasa tidak menjadi kasar

Ayat9
Barang siapa perkataan kotor
Mulutnya itu umpama ketor

Pasang pelita dikala senja
Malam hari gelap gulita
Jaga kata kalau berbicara
Jangan sampai merusak etika

Datuk pendekar telah ditawan
Ditawan pasukan darilah bintan
Bertutur kata mestilah sopan
Kawan dan lawan pastilah segan

Senjata meriam isilah pelor
Arah bidik tuju ketimur
Jika banyak berkata kotor
Jauh dari tabi’at jujur

Serasan dekat pulau Tambelan
Pulau Jemaja pulau Siantan
Berkata dengan bahasa sopan
Bagai puspa harum ditaman

Ayat10
Dimanakah salah diri
Jika tidak orang lain perperi

Kehulu sungai indragiri
Henda memikat burung kedidi
Tak tahu akan kesalahan diri
Tanpa diingat teman sendiri

Pekan lama dipulau jeri
Tempat perahu mengikat tali
Teman umpama cerminan diri
Tingkah laku harus kita cermati

Sungai Ungar Tanjung Berlian
Masa lalu satu kecamatan
Selalu dengar nasehat kawan
Supaya tau buruknya badan

Hang Tuah pahlawan memang tawaduk
Tinggal dirumah seperti gubuk
Petuah taulan jadikan cambuk
Untuk mengubah tabiat buruk

Ayat11
Pekerjaan takabur jangan direpih
Sebelum mati didapat juga sapih

Tumbuh ditaman kembang nan subur
Sangat indah bagai menghibur
Hidup jangan sombong takabur
Mendapat azab didalam kubur

Indah sungguh nyanyian kenari
Balam juga sama berbunyi
Manusia selalu banggakan diri
Dalam hidupnya pastilah rugi

Sarang tambuan dipohon nyiur
Hinggap selalu burung tekukur
Senang jangan jadi takabur
Ingat waktu badanmu uzur

Pergi gelugur membeli besi
Belikan juga papan meranti
Hidup takabur selalu dibenci
Jauhkan ia jangan dekati

Gurindam 12 Pasal 3


raja ali haji

Raja Ali Haji Fisabilillah

 

 

 

 

 

 

 

 

Pasal III

Jual merica ditanah seberang
Hari senja ku terus pulang
Pasal ketiga pantun di karang
Tidak sempurna banyak yang kurang

Ayat 1
“Apabila terpelihara mata
Sedikitlah bercita-cita”

Banyak sahabat dikala suka
Pabila duka sahabat tiada
Indra melihat bernama mata
Gunakan pada yang Allah suka

Samudra hindia laut gelora
Samudra jawa gelora sama
Apabila lihat yang terbuka
Rumah tangga jadi porak peranda

Pergi memanjat pohon berangan
Ambil galah buat pegangan
Mata melihat yang bukan-bukan
Dihati masuklah godaan syaitan

Madah kelana suara indah
Hati pilu pastikan suka
Selalulah jaga pandangan mata
Pasti jauh perbuatan dosa

Ayat 2
“Apabila terpelihara kuping
Kabar yang jahat tidak damping”

Bendera berkibar lagu beriring
Telah dipasang ditepi tebing
Indra pendengar itulah kuping
Allah ciptakan dualah kuping

Kebandar daik beli kemunting
Belanja sama si ikan kering
Dengar yang baik serta yang penting
Supaya kepala tidaklah pusing

Bunga manggar bunga kemuning
Bunga dipasang acara penting
Banyak mendengar berita miring
Fikiran akan terasa runsing

Jalan beriring pergi kepasar
Bawa kerupuk untuk saudagar
Gunakan kuping dengar yang benar
Perkara buruk akan terhindar

Ayat 3
“Apabila terpeliha lidah
Niscaya dapat darinya faedah”

Buah rawa tanjung Judah
Pulau jaga dan pulau mandah
Indra perasa nama lidah
Agar manusia dapat bertitah

Ikan belidah dibelah belah
Bersame todak disamasak rempah
Gunakan lidah bagi yang faedah
Supaye tidak timbulkan fitnah

Cempedak diambil memakai galah
Dimakan mari bersame esah
Perbanyak zikir kepada Allah
Gunakan hati berserta lidah

Lagu dan tari terlihat indah
Dara bujang dari sekanah
Jauhkan dari umpat dan fitnah
Allah akan beri anugrah

Ayat 4
“Bersungguh-sungguh engkau memelihara tangan
Dari pada selalu berat dan ringan”

Indah nian istana bunian
Tempat bunian berkasih kasihan
Allah telah ciptakan dua belah tangan
Manfaatkan dengar ridho tuhan

Kuat menerima cobaan tuhan
Jauhkan dari godaan syaitan
Giat bekerja ringankan tangan
Jangan amalkan panjang tangan

Tanam getah diatas lahan
Lahan tak cukup kena sempadan
Tangan ditadah kepada tuhan
Tangan telungkup kepada insan

Selada dibuat untuk makanan
Bersama makan hidangan tuan
Kepada anak tangan tak ringan
Kepada kerja ringankan tangan

Ayat 5
“Apabila perut terlalu penuh
Keluarga fi’il yang tiada senonoh”

Disiram terus kuntumkan mekar
Indah benar terkena sinar
Makan harus sebelum lapar
Supaya lancar akan ikhtiar

Dari pekan membeli kajang
Besar dilipat bawa senayang
Berhenti makan sebelum kenyang
Agar tidak jadi mengkayang

Laut surut menjadi dangkal
Banyak karang terasa terjal
Untuk perut mesti yang halal
Supaya perangai tidaklah bingal

Pulau bintan jauh terkenang
Masa yang lalu pada tersayang
Bila makan terlalu kenyang
Mata nak tidur pikiran melayang

Ayat 6
“Anggota tangah hendaklah ingat
Disitulah banyak orang hilang semangat”

Sayang hang tuah kemalaka
Dilanda badai karam bahtera
Anggota tangah harus dijaga
Itulah sebagai penerus baka

Kalau harus bersusah payah
Jati diri tidakkan goyah
Kalau mampu segera menikah
Jauhi dari perbuatan zinah

Samudra hindia lautan tengah
Kapal berlalu sangat indah
Supaya lupa tentang hal zinah
Ingat lah selalu akan orang rumah

Kaum kerabat buat mufakat
Tanda keluarga sudah sepakat
Ape dibuat tidak semangat
Karena yang tengah sudah tak kuat

Ayat 7
“Hendaklah Pelihara Kaki
Dari Berjalan Membawa Rugi”

Membawa lukah mencari ikan
Pakai juga kail berjoran
Dicipta Allah kiri dan kanan
Bagi manusia untuk berjalan

Ikan dicari ditepi kali
Joran dari kayu mentigi
Gunakan kaki cari rezeki
Jangan dipakai pada yang rugi

Pulau sebaik tinggal kenangan
Punah hutan dari pandangan
Buat yang baik dahulukan kanan
Sunah nabi kita amalkan

Camar mungil terbang menari
Merah jingga warna mentari
Kekamar kecil dahulukan kiri
Insyaallah kita tidak merugi

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.