Beberapa Keindahan Karimun #3


Makam Badang Perkasa

Jejak Kaki Badang Perkasa

Apabila bangsa Yunani mempunyai Hercules, maka masyarakat melayu juga mempunyai Herculesnya sendiri.Namanya Badang, manusia bertenaga raksasa yang mempunyai kekuatan luar biasa sering di sanjung oleh buku-buku sejarah sebagai pendekar melayu yang gagah perkasa.

Awalnya, ia hanya seorang rakyat jelata yang bertugas menebang pohon di hutan, kemudian dengan tiba-tiba Badang memperoleh kekuatan yang luar biasa dahsyat sesaat setelah ia memakan muntah sejenis jin yang tertangkap sedang mencuri ikan tangkapannya. Mulai saat itulah, Badang dijadikan pendekar oleh Raja Temasik pada abad ke 14.

Kekuatan yang dimiliki Badang membuat namanya kian terkenal di seluruh penjuru. Bahkan, juga diriwayatkan menarik perhatian banyak raja-raja maupun penguasa negara-negara di luar Rumpun Melayu, yang turut mengutus pendekar-pendekar handal mereka untuk membandingkan kekuatannya dengan Badang.

Namun, menurut beberapa catatan di dalam buku-buku sejarah, cerita mengenai Badang itu mungkin hanya merupakan satu mitos yang menjadi bahan bagi buku cerita anak-anak mengenai kisah masa lalu. Apakah cerita Badang itu benar, pahlawan Sri Rana Wikerna (Raja Temasik kedua) memang benar-benar ada pada saat itu.

Enam abad kemudian, pada saat ini keberadaan Badang perkasa itu hanya dapat dibuktikan dengan letak makamnya.

Dalam buku yang berjudul An Anecdotal History of Old Times in Singapore 1819-1867 karya Charles Burto Buckley, yang menyatakan makam Badang terletak di muara sungai Singapura. Namun, sejarah melayu menyatakan makam pahlawan itu berada di pertengahan pulau Buru, sebuah pulau kecil di Kepulauan Riau yang sekarang sudah menjadi Provinsi Kepulauan Riau. Sebuah makam yang di katakan tempat Badang perkasa bersemedi, makam itu memiliki panjang hampir tiga meter , dengan nisan purba terletak didalam hutan rimba Pulau Buru yang bersebelahan dengan pulau Karimun Besar ( Kabupaten Karimun ).

Bagi para pendatang, sesampainya di pulau Buru kita akan “disambut” oleh sebuah patung Badang yang terletak di atas sebuah plang “Selamat Datang di Buru”. Pulau kecil itu memiliki penduduk dari berbagai etnis Melayu dan China yang kebanyakannya bermata pencarian sebagai petani dan nelayan. Hampir semua penduduk setempat mengetahui arah menuju ke makam Badang.

Bekas penghuni rumah Pak Mahanun, Raja Fata Raja Mahmud yang mengaku merupakan keturunan Raja Buru menyatakan, Beliau yakin makam tersebut adalah tempat Badang bersemedi. Raja Fata, 75 tahun yang kini tinggal 7 kilometer dari tempat tersebut yang mengatakan demikian.

Memang, banyak buku sejarah Melayu yang menyatakan bahwa makam Badang terletak di tengah Pulau Buru, tepatnya di pertengahan pulau ini, karena jarak untuk ke laut sama persis dari arah timur dan barat makam itu. Hal ini juga dibuktikan dengan tanda-tanda di batu nisan yang pada bagian kepalanya terdapat ukiran “XIII” yang mungkin saja menandakan bahwa makam tersebut wujud pada sekitar tahun 1300 yaitu pada abad ke-14 masa kegemilangan Badang.

“Di bagian kaki batu nisan pula, terdapat ukiran seperti bentuk gajah yang kini hanya samar-samar setelah setelah habis dimakan zaman. Gajah, salah satu diantara simbol Hindu yang bisa saja melambangkan kekuatan Badang – gagah perkasa seperti gajah.” demikian tuturnya.

Jika masyarakat Yunani mempunyai Hercules, masyarakat melayu juga mempunyai Herculesnya sendiri. Badang, manusia bertenaga raksasa yang mempunyai kekuatan luar biasa sering di sanjung oleh buku-buku sejarah sebagai pendekar melayu yang gagah perkasa.

Awalnya, ia hanya seorang rakyat jelata yang bertugas menebang pohon di hutan, setelah kemudian dengan tiba-tiba Badang memperoleh kekuatan yang luar biasa dahsyat sesaat setelah ia memakan muntah sejenis jin yang tertangkap sedang mencuri ikan tangkapannya. Mulai saat itulah, Badang dijadikan pendekar oleh Raja Temasik pada abad ke 14.

Kekuatan yang dimiliki Badang membuat namanya kian terkenal di seluruh penjuru. Bahkan, juga diriwayatkan menarik perhatian banyak raja-raja maupun penguasa negara-negara di luar Rumpun Melayu, yang turut mengutus pendekar-pendekar handal mereka untuk membandingkan kekuatannya dengan Badang.

Namun, menurut beberapa catatan di dalam buku-buku sejarah, cerita mengenai Badang itu mungkin hanya merupakan satu mitos yang menjadi bahan bagi buku cerita anak-anak mengenai kisah masa lalu. Apakah cerita Badang itu benar, pahlawan Sri Rana Wikerna (Raja Temasik kedua) memang benar-benar ada pada saat itu.

Enam abad kemudian, pada saat ini keberadaan Badang perkasa itu hanya dapat dibuktikan dengan letak makamnya.

Dalam buku yang berjudul An Anecdotal History of Old Times in Singapore 1819-1867 karya Charles Burto Buckley, yang menyatakan makam Badang terletak di muara sungai Singapura. Namun, sejarah melayu menyatakan makam pahlawan itu berada di pertengahan pulau Buru, sebuah pulau kecil di Kepulauan Riau yang sekarang sudah menjadi Provinsi Kepulauan Riau. Sebuah makam yang di katakan tempat Badang perkasa bersemedi, makam itu memiliki panjang hampir tiga meter , dengan nisan purba terletak didalam hutan rimba Pulau Buru yang bersebelahan dengan pulau Karimun Besar ( Kabupaten Karimun ).

Bagi para pendatang, sesampainya di pulau Buru kita akan “disambut” oleh sebuah patung Badang yang terletak di atas sebuah plang “Selamat Datang di Buru”. Pulau kecil itu memiliki penduduk dari berbagai etnis Melayu dan China yang kebanyakannya bermata pencarian sebagai petani dan nelayan. Hampir semua penduduk setempat mengetahui arah menuju ke makam Badang.

Bekas penghuni rumah Pak Mahanun, Raja Fata Raja Mahmud yang mengaku merupakan keturunan Raja Buru menyatakan, Beliau yakin makam tersebut adalah tempat Badang bersemedi. Raja Fata, 75 tahun yang kini tinggal 7 kilometer dari tempat tersebut yang mengatakan demikian.

Memang, banyak buku sejarah Melayu yang menyatakan bahwa makam Badang terletak di tengah Pulau Buru, tepatnya di pertengahan pulau ini, karena jarak untuk ke laut sama persis dari arah timur dan barat makam itu. Hal ini juga dibuktikan dengan tanda-tanda di batu nisan yang pada bagian kepalanya terdapat ukiran “XIII” yang mungkin saja menandakan bahwa makam tersebut wujud pada sekitar tahun 1300 yaitu pada abad ke-14 masa kegemilangan Badang.

“Di bagian kaki batu nisan pula, terdapat ukiran seperti bentuk gajah yang kini hanya samar-samar setelah setelah habis dimakan zaman. Gajah, salah satu diantara simbol Hindu yang bisa saja melambangkan kekuatan Badang – gagah perkasa seperti gajah.” demikian tuturnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: