Gurindam 12 Pasal 4


makam

Makam Raja Ali Haji Fisabilillah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pasal IV

Pasir lulun dan tanjung lipat
Tempat mencari si ikan sepat
Teruskan pantun pasal ke empat
Pantun berisi banyak nasehat

Ayat 1
“Hati itu kerajaan didalam tubuh
Jikalau Zalim segala angota pun roboh”

Sebilah lembing darilah buluh
Bilah dibeli desa gemuruh
Sebongkah daging didalam tubuh
Itulah hati sangat berpengaruh

Laksamana mati karena dibunuh
Dendam kesumat bagai diteluh
Pangkalnya hati didalam tubuh
Jasadkan buat apa disuruh

Datang dari teluk kuantan
Berniaga benda dari anyaman
Bila hati dirasuk syaitan
Angkara murka jadi perbuatan

Simpan galah didalam peti
Simpan mari berhari hari
Ingatkan allah didalam hati
Jasmani rohani menjadi suci

Ayat 2
“Apabila dengki sudah bertanda
Datanglah dari padanya bebrapa anak panah”

Ngarai berbatu jalan ditepi
Lama berjalan bisa dikaki
Perangai selalu iri dan dengki
Tanda syaitan bertahta di hati

Dari khurapat akan sesat
Jauhkan dirimu dikala dapat
Dengki khianat jangan didekat
Diri akan selalu dilaknat

Bagai duri sudah melekat
Kulit seakan dikerat kerat
Iri dan dengki sudah bersahabat
Penyakit akan selalu dekat

Asam kandis jatuh ketanah
Jatuh dikali sibuah getah
Ibarat kudis mulai bernanah
Dengki dihati susah diubah

Ayat 3
“Mengumpat mengiji hendaklah piker
Disitulah banyak orang tergelincir”

Ikan terubuk dalam hidangan
Hidangan lebai buat undangan
Jangan mabuk akan pujian
Gunakan sebagai penguat iman

Tabir terbuka dimulai tari
Indah tarian dari sang putri
Bibir berucap ikhlas dihati
Itulah pujian paling hakiki

Kuat bukan buat diuji
Akan merugi diri sendiri
Berbuat jangan harap dipuji
Tidakkan sempurna seperti dihajati

Dikerat dulu baru disimpan
Petuah dari datuklah uban
Berbuat selalu harap pujian
Jauh dari redhanya tuhan

Ayat 4
“Pekerjaan marah jangan dibela
Nanti hilang akal dikepala”

Buah padi tebar ditanah
Keluar keringat terasa lelah
Bila diri terasakan marah
Segeralah ingat kepada allah

Emas merah bertatah intan
Suasa juga pakai ditangan
Sifat marah perbuatan syaitan
Pabila datang segera dilawan

Cuaca cerah disiang hari
Mega berlalu hilang mentari
Marah sudah didalam hati
Segera berwudhu sucikan diri

Rotan berduri dikebun getah
Getah bersusu putih dan merah
Lawan dari nafsu amarah
Itulah nafsu muthmainnah

Ayat 5
“Jika sedikitpun berbuat bohong
Bolehlah diumpamakan mulutnya pekong”

Siakap senohong mari dikail
Masak di panci di campur air
Bila pembohong sedari kecil
Besar menjadi menipu mahir

Terong biru segera dipetik
Buat makanan musim paceklik
Bohong itu tanda munafik
Akhirnya akan menjadi fasik

Dari bakong kesungai pancur
Layar biduk haluan timur
Hindari bohong jadilah jujur
Agar hidup tidak hancur

Sorong papan buat terali
Papan dari dahan berduri
Bohong jangan buat sekali
Akan menjadi kebiasaan diri

Ayat 6
“Tanda orang amat celaka
Aib dirinya tiada disangka”

Berburu macan dibulan terang
Malam hari timbul bintang
Tahu akan aibnya orang
Tanda diri selalu kurang

Naik bendi di pekan raya
Naik berteman dengan ceria
Aib sendiri jadikan rahasia
Aib orang jangan dicerita

Tasik biru indah menawan
Sendiri menyepi tanda berteman
Aib itu jadikan sempadan
Perbaiki diri hari depan

Daik Bintan kuala tungkal
Laut cina mencari bawal
Aib teman selalu dibual
Aib kita selalu dijual

Ayat 7
“Bakhil jangan diberi singgah
Itulah perompak yang sangat gagah”

Bila berhasil janganlah pongah
Sudah pasti semuakan marah
Bila bakhil sudah menjamah
Jauhlah diri dari amanah

Dari sekolah ketugu pinsil
Bersama teman sambil mengail
Dihati singgah penyakit bakhil
Semua perbuatan menjadi bathil

Ambil pasir dekat pesisir
Sudah diambil buat cek basir
Bakhil dan kikir sifat rentenir
Jauhilah sampai hayat berakhir

Disana gurun disini air
Diatas gurun terdapat pasir
Bersama qarun dihari akhir
Setiap insan bersifat kikir

Ayat 8
“Barang siapa yang sudah besar
Janganlah kelakuannya membuat kasar”

Jika melipat baju seluar
Letak selendang didalam bangsal
Bila jasad tumbuh membesar
Otak berkembang makin berakal

Dengan saudagar barang di tukar
Pasar serang tempat berjual
Badan besar berbuat kasar
Tanda orang kurang berakal

Sunggunh indah gunung banang
Lautan besar luas terbentang
Tumbuh jasad akal berkembang
Kelakuan kasar jauh dibuang

Datang kesini ingin belajar
Belajar silat dari dasar
Pendidikan dini baik dan benar
Dewasa tidak menjadi kasar

Ayat 9
“Barang siapa perkataan kotor
Mulutnya itu umpama ketor”

Pasang pelita dikala senja
Malam hari gelap gulita
Jaga kata kalau berbicara
Jangan sampai merusak etika

Datuk pendekar telah ditawan
Ditawan pasukan darilah bintan
Bertutur kata mestilah sopan
Kawan dan lawan pastilah segan

Senjata meriam isilah pelor
Arah bidik tuju ketimur
Jika banyak berkata kotor
Jauh dari tabi’at jujur

Serasan dekat pulau Tambelan
Pulau Jemaja pulau Siantan
Berkata dengan bahasa sopan
Bagai puspa harum ditaman

Ayat 10
“Dimanakah salah diri
Jika tidak orang lain perperi”

Kehulu sungai indragiri
Henda memikat burung kedidi
Tak tahu akan kesalahan diri
Tanpa diingat teman sendiri

Pekan lama dipulau jeri
Tempat perahu mengikat tali
Teman umpama cerminan diri
Tingkah laku harus kita cermati

Sungai Ungar Tanjung Berlian
Masa lalu satu kecamatan
Selalu dengar nasehat kawan
Supaya tau buruknya badan

Hang Tuah pahlawan memang tawaduk
Tinggal dirumah seperti gubuk
Petuah taulan jadikan cambuk
Untuk mengubah tabiat buruk

Ayat 11
“Pekerjaan takabur jangan direpih
Sebelum mati didapat juga sapih”

Tumbuh ditaman kembang nan subur
Sangat indah bagai menghibur
Hidup jangan sombong takabur
Mendapat azab didalam kubur

Indah sungguh nyanyian kenari
Balam juga sama berbunyi
Manusia selalu banggakan diri
Dalam hidupnya pastilah rugi

Sarang tambuan dipohon nyiur
Hinggap selalu burung tekukur
Senang jangan jadi takabur
Ingat waktu badanmu uzur

Pergi gelugur membeli besi
Belikan juga papan meranti
Hidup takabur selalu dibenci
Jauhkan ia jangan dekati

. Pasir lulun dan tanjung lipat
Tempat mencari si ikan sepat
Teruskan pantun pasal ke empat
Pantun berisi banyak nasehat

Ayat1
Hati itu kerajaan didalam tubuh
Jikalau Zalim segala angota pun roboh

Sebilah lembing darilah buluh
Bilah dibeli desa gemuruh
Sebongkah daging didalam tubuh
Itulah hati sangat berpengaruh

Laksamana mati karena dibunuh
Dendam kesumat bagai diteluh
Pangkalnya hati didalam tubuh
Jasadkan buat apa disuruh

Datang dari teluk kuantan
Berniaga benda dari anyaman
Bila hati dirasuk syaitan
Angkara murka jadi perbuatan

Simpan galah didalam peti
Simpan mari berhari hari
Ingatkan allah didalam hati
Jasmani rohani menjadi suci

Ayat2
Apabila dengki sudah bertanda
Datanglah dari padanya bebrapa anak panah

Ngarai berbatu jalan ditepi
Lama berjalan bisa dikaki
Perangai selalu iri dan dengki
Tanda syaitan bertahta di hati

Dari khurapat akan sesat
Jauhkan dirimu dikala dapat
Dengki khianat jangan didekat
Diri akan selalu dilaknat

Bagai duri sudah melekat
Kulit seakan dikerat kerat
Iri dan dengki sudah bersahabat
Penyakit akan selalu dekat

Asam kandis jatuh ketanah
Jatuh dikali sibuah getah
Ibarat kudis mulai bernanah
Dengki dihati susah diubah

Ayat 3
Mengumpat mengiji hendaklah piker
Disitulah banyak orang tergelincir

Ikan terubuk dalam hidangan
Hidangan lebai buat undangan
Jangan mabuk akan pujian
Gunakan sebagai penguat iman

Tabir terbuka dimulai tari
Indah tarian dari sang putri
Bibir berucap ikhlas dihati
Itulah pujian paling hakiki

Kuat bukan buat diuji
Akan merugi diri sendiri
Berbuat jangan harap dipuji
Tidakkan sempurna seperti dihajati

Dikerat dulu baru disimpan
Petuah dari datuklah uban
Berbuat selalu harap pujian
Jauh dari redhanya tuhan

Ayat4
Pekerjaan marah jangan dibela
Nanti hilang akal dikepala

Buah padi tebar ditanah
Keluar keringat terasa lelah
Bila diri terasakan marah
Segeralah ingat kepada allah

Emas merah bertatah intan
Suasa juga pakai ditangan
Sifat marah perbuatan syaitan
Pabila datang segera dilawan

Cuaca cerah disiang hari
Mega berlalu hilang mentari
Marah sudah didalam hati
Segera berwudhu sucikan diri

Rotan berduri dikebun getah
Getah bersusu putih dan merah
Lawan dari nafsu amarah
Itulah nafsu muthmainnah

Ayat5
Jika sedikitpun berbuat bohong
Bolehlah diumpamakan mulutnya pekong

Siakap senohong mari dikail
Masak di panci di campur air
Bila pembohong sedari kecil
Besar menjadi menipu mahir

Terong biru segera dipetik
Buat makanan musim paceklik
Bohong itu tanda munafik
Akhirnya akan menjadi fasik

Dari bakong kesungai pancur
Layar biduk haluan timur
Hindari bohong jadilah jujur
Agar hidup tidak hancur

Sorong papan buat terali
Papan dari dahan berduri
Bohong jangan buat sekali
Akan menjadi kebiasaan diri

Ayat6
Tanda orang amat celaka
Aib dirinya tiada disangka

Berburu macan dibulan terang
Malam hari timbul bintang
Tahu akan aibnya orang
Tanda diri selalu kurang

Naik bendi di pekan raya
Naik berteman dengan ceria
Aib sendiri jadikan rahasia
Aib orang jangan dicerita

Tasik biru indah menawan
Sendiri menyepi tanda berteman
Aib itu jadikan sempadan
Perbaiki diri hari depan

Daik Bintan kuala tungkal
Laut cina mencari bawal
Aib teman selalu dibual
Aib kita selalu dijual

Ayat7
Bakhil jangan diberi singgah
Itulah perompak yang sangat gagah

Bila berhasil janganlah pongah
Sudah pasti semuakan marah
Bila bakhil sudah menjamah
Jauhlah diri dari amanah

Dari sekolah ketugu pinsil
Bersama teman sambil mengail
Dihati singgah penyakit bakhil
Semua perbuatan menjadi bathil

Ambil pasir dekat pesisir
Sudah diambil buat cek basir
Bakhil dan kikir sifat rentenir
Jauhilah sampai hayat berakhir

Disana gurun disini air
Diatas gurun terdapat pasir
Bersama qarun dihari akhir
Setiap insan bersifat kikir

Ayat8
Barang siapa yang sudah besar
Janganlah kelakuannya membuat kasar

Jika melipat baju seluar
Letak selendang didalam bangsal
Bila jasad tumbuh membesar
Otak berkembang makin berakal

Dengan saudagar barang di tukar
Pasar serang tempat berjual
Badan besar berbuat kasar
Tanda orang kurang berakal

Sunggunh indah gunung banang
Lautan besar luas terbentang
Tumbuh jasad akal berkembang
Kelakuan kasar jauh dibuang

Datang kesini ingin belajar
Belajar silat dari dasar
Pendidikan dini baik dan benar
Dewasa tidak menjadi kasar

Ayat9
Barang siapa perkataan kotor
Mulutnya itu umpama ketor

Pasang pelita dikala senja
Malam hari gelap gulita
Jaga kata kalau berbicara
Jangan sampai merusak etika

Datuk pendekar telah ditawan
Ditawan pasukan darilah bintan
Bertutur kata mestilah sopan
Kawan dan lawan pastilah segan

Senjata meriam isilah pelor
Arah bidik tuju ketimur
Jika banyak berkata kotor
Jauh dari tabi’at jujur

Serasan dekat pulau Tambelan
Pulau Jemaja pulau Siantan
Berkata dengan bahasa sopan
Bagai puspa harum ditaman

Ayat10
Dimanakah salah diri
Jika tidak orang lain perperi

Kehulu sungai indragiri
Henda memikat burung kedidi
Tak tahu akan kesalahan diri
Tanpa diingat teman sendiri

Pekan lama dipulau jeri
Tempat perahu mengikat tali
Teman umpama cerminan diri
Tingkah laku harus kita cermati

Sungai Ungar Tanjung Berlian
Masa lalu satu kecamatan
Selalu dengar nasehat kawan
Supaya tau buruknya badan

Hang Tuah pahlawan memang tawaduk
Tinggal dirumah seperti gubuk
Petuah taulan jadikan cambuk
Untuk mengubah tabiat buruk

Ayat11
Pekerjaan takabur jangan direpih
Sebelum mati didapat juga sapih

Tumbuh ditaman kembang nan subur
Sangat indah bagai menghibur
Hidup jangan sombong takabur
Mendapat azab didalam kubur

Indah sungguh nyanyian kenari
Balam juga sama berbunyi
Manusia selalu banggakan diri
Dalam hidupnya pastilah rugi

Sarang tambuan dipohon nyiur
Hinggap selalu burung tekukur
Senang jangan jadi takabur
Ingat waktu badanmu uzur

Pergi gelugur membeli besi
Belikan juga papan meranti
Hidup takabur selalu dibenci
Jauhkan ia jangan dekati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: