Sidang Putusan Kasus Pencurian Besi Tua Ditunda


Ratna Oktaviani (24), istri Riduan bin Ali (31), kecewa karena sidang perkara pencurian 60 batang besi sepanjang 10 centimeter, sisa proyek galangan kapal, PT Multi Ocean Shipyard (MOS) batal dilanjutkan. Pihak Pengadilan Negeri Tanjungbalai Karimun membatalkan karena ketua majelis hakim, Muhammad Candra SH jatuh sakit.

Ani berharap sidang dengan agenda mendengarkan putusan majelis hakim tersebut bisa tuntas dan nasib suaminya jelas.

“Saya kecewa, begini lah kalau orang miskin kena perkara. Sidangnya pun musti ditunda-tunda. Besok-besok tak usah diliput-liput lagi lah bang kalau begini terus,” gerutu Ani berlalu pergi, Senin (21/2/2011) siang.

Majelis hakim urung membacakan putusan mereka dikarenakan ketua majelis hakim, Muhammad Candra SH jatuh sakit.

“Semuanya kita sudah siap tapi karena ketua majelis hakim sakit, sidang terpaksa kami tunda,” kata hakim anggota, WP Bayu Kumoro SH menjelaskan.

Sidang rencananya kembali digelar seminggu lagi atau Senin (28/2/2011) sekitar pukul 13:00 WIB.

Selain itu, Bayu juga mengatakan, sidang ditunda juga dikarenakan ketidakhadiran seorang pun penasehat hukum terdakwa.

“Maaf bang, saya dan bang (Nasib Maringan) Silaban tengah ada urusan di Jakarta. Mungkin yang datang nanti (sidang) hanya bang Hakim Adnan saja,” ujar Rangga SH, seorang penasehat hukum terdakwa menjelaskan.

Sementara itu, Hakim Adnan SH saat dihubungi Tribun tidak mengangkat telpon genggamnya. Layanan pesan singkat elektronik (sms) Tribun juga tidak dibalas.

Pada sidang sebelumnya terdakwa Riduan bin Ali dituntut Jaksa Penuntut Umum Restu Andi SH hukuman 1 tahun penjara.

Restu menilai terdakwa Riduan bin Ali bersalah dan terbukti melanggar pasal 362 KUHP tentang pencurian.

Tuntutan yang kemudian berujung celaan oleh pihak keluarga terdakwa. Mereka pun sempat memaki-maki JPU Restu karena kesal.

Kasus Riduan bin Ali mencuat kepermukaan setelah mantan buruh lepas di PT MOS di Desa Pangke, Kecamatan Meral itu dijebloskan ke sel tahanan paska mengembalikan barang bukti 60 batang besi sisa potongan besi sisa proyek PT MOS, 25 September 2010 lalu.

Padahal saat itu Riduan telah minta maaf kepada perwakilan manajemen PT MOS dengan alasan tidak tahu aturan.

Namun pihak perusahaan bergeming. Dengan alasan memberikan efek jera kepada pelaku dan contoh bagi pekerja lainnya, PT MOS tetap melanjutkan kasusnya ke ranah hukum.

Dalam persidangan juga diketahui Riduan belum sempat membawa keluar area perusahaan barang bukti saat pertama kali diketahui sekuriti perusahaan.

Tidak hanya warga, pihak Kepolisian Sektor (Polsek) Meral yang menerima kasus tersebut awalnya juga terkejut dengan kasus Riduan itu.

Pihak polsek dalam hal ini Kepala Unit Reserse dan Kriminalnya Ipda Bobferizal (sekarang Wakapolsek Kundur) bahkan sempat menyarankan kasus tersebut diselesaikan secara kekeluargaan.

Tapi sekali lagi, PT MOS bergeming dan tetap sikuekueh melanjutkan kasus tersebut diselesaikan secara hukum.

Dikutip dari Tribun Batam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: