Hunian Hotel Karimun Stagnan


Pihak Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau mengatakan tingkat hunian hotel dan wisma selama tahun ini stagnan atau tidak ada peningkatan signifikan dibandingkan dengan 2010.

“Tingkat hunian hotel dan wisma sejak Januari hingga kini, tidak jauh berbeda dibandingkan periode yang sama 2010. Kondisinya sama dan tetap memprihatinkan,” kata Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Cabang Karimun Edi Suntek, di Tanjung Balai Karimun, Sabtu.

Edi Suntek mengatakan, umumnya hotel kelas melati mengeluhkan sepinya tamu dengan jumlah hunian antara lima hingga sepuluh kamar per hari.

“Wisma saya sendiri tidak sampai sepuluh kamar per hari. Secara garis besar, jumlah kamar yang terisi khusus hotel melati rata-rata 5 – 10 kamar, kecuali pada akhir pekan yang sedikit meningkat dengan kunjungan wisatawan Malaysia dan dari daerah lain yang berlibur,” ucapnya.

Meski demikian, kata dia, kunjungan wisatawan Singapura dan Malaysia pada akhir pekan, belum mampu menggairahkan kembali sektor perhotelan di kabupaten ini.

“Hotel berbintang bisa bertahan karena ada pekerja asing yang mengontrak kamar untuk waktu tertentu,” katanya.

Sedangkan hotel melati yang jumlahnya mencapai 40 unit lebih, menurut dia, ada yang masih bisa bertahan setelah kamarnya dialihfungsikan menjadi tempat kos-kosan.

“Kini banyak hotel melati yang menyewakan kamarnya untuk kos-kosan. Pengalihfungsian itu terpaksa dilakukan dari pada tutup atau bangkrut,” ucapnya.

Menurut dia, salah satu penyebab stagnannya hunian hotel, tentu akibat tetap rendahnya kunjungan wisatawan.

Selama ini, kata dia, wisatawan yang berkunjung hanya didominasi dari Singapura dan Malaysia yang mencari hiburan di tempat-tempat hiburan malam.

“Tempat hiburan malam memang salah satu cara memikat wisatawan, tapi bukan dijadikan andalan. Yang harus dijadikan andalan adalah objek-objek wisata yang bernilai jual tinggi,” tuturnya.

Dikatakannya, pemerintah daerah seharusnya memoles serta mengemas sedemikian rupa objek-objek wisata, seperti Pantai Pelawan, air terjun dan pantai di Desa Pongkar, situs sejarah batu bersurat atau objek wisata pemandian air panas di Buru.

“Wisman tidak akan datang jika objek-objek wisata itu kumuh atau tidak mempunyai fasilitas lengkap yang mampu memanjakan mereka saat berkunjung ke sini,” ucapnya.

Lebih lanjut dikatakan, meski kunjungan tingkat hunian hotel stagnan, pemilik hotel dan restoran sedikit terbantu dengan pulihnya krisis listrik yang selama ini mempengaruhi sektor perhotelan.

“Pemilik hotel dan wisma sedikit bisa bernapas dengan tidak adanya pemadaman listrik bergiliran seperti tahun-tahun yang lalu,” katanya menambahkan.

Dikutip dari Kepri Antaranews

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: